allan online
Trojan Domplengi World Cup 2006 oleh alan Jakarta, Event bergengsi World Cup 2006 sudah di depan mata. Waspadalah! Sebuah trojan baru telah menyebar tadi malam. Trojan ini berpose sebagai wall chart World Cup 2006, dimana pengguna bisa menjajaki progress tim jagoan mereka di final World Cup. Adalah Haxdoor-IN Trojan, muncul sebagai sebuah file attachment berisi deskripsi grafik lewat e-mail. Sampai sejauh ini, e-mail yang beredar hanya berbahasa Jerman. Tapi pakar keamanan menduga e-mail dalam bahasa lain kemungkinan juga sudah menyebar. "World Cup adalah salah satu ajang olahraga terbesar tahun ini, dan para penggemar sepakbola di seluruh dunia sangat mengikuti perkembangan tim nasional mereka secara antusias," kata Graham Cluley, Senior Teknologi Konsultan di Sophos. Cluley menambahkan, pembuat malware mencoba memanfaatkan antusias penggemar untuk menginfeksi sebanyak mungkin PC (personal computer) pengguna, agar bisa memata-matai dan merampas kontrol komputer korban. Sekali diaktifkan, Trojan akan mengubah file registry PC dan menginstal malware. Hal ini memungkinkan penyerang mengontrol komputer korban. Hati-hatilah. Perhatian phisher kini sedang tertuju pada Anda para maniak bola. Dengan mengiming-imingkan banyak hadiah yang menggiurkan, termasuk tiket gratis ke Final Piala Dunia 2006 yang akan berlangsung di Jerman, Juni mendatang. Sebelumnya, di kompetisi run-up World Cup 1998 di Perancis, virus lain juga sudah menjalar dan banyak menginfeksi PC para penggemar sepakbola. Virus akan menghapus semua data dari hard drive. --------------------------------------------------------------------------------- Konsolidasi Microsoft-ITB Demi SDM TI Lokal Andal 4 mei 2006 oleh alan Bandung, Microsoft dan Institut Teknologi Bandung (ITB) berkonsolidasi demi mencetak SDM teknologi informasi andal. Hal itu diwujudkan dengan membangun pusat pengembangan dan inovasi software. Kedua belah pihak meresmikan pendirian pusat pengembangan inovasi yang disebut Microsoft Innovation Center (MIC). Dalam keterangan tertulisnya, Jumat (5/5/2006), MIC sendiri merupakan program lanjutan dari pengembangan SDM TI lokal hasil kerjasama ITB dan PT Microsoft Indonesia, yakni Bina ISV (Independent Software Vendor). ITB merupakan institusi pendidikan kedua yang memiliki MIC. Sebelumnya MIC pertama sudah didirikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Dengan ketersediaan fasilitas yang lebih baik di MIC, Rektor ITB Prof. Djoko Santoso berharap bisa menaikan mutu SDM TI lokal, khususnya mahasiswa dan pengembang software. "Apa yang bisa dimanfaatkan dengan keunggulan mereka (Microsoft -red) akan kita gunakan untuk membangun industri TI di Indonesia," kata Djoko di Labtek V ITB, Bandung (4/5/2006) seusai peresmian. Dalam kerjasama itu, ITB hanya perlu menyediakan tempat dan SDM saja, sedangkan Microsoft menyediakan kurikulum pengajaran serta fasilitas pendukung yang terkait. Dengan hadirnya MIC ini, Djoko Santoso optimis SDM teknologi informasi (TI) lokal nantinya akan mampu bersaing dengan SDM TI asing. Rasa optimis itu menurutnya, dikarenakan dari besarnya populasi penduduk di Indonesia (240 juta jiwa) masih banyak SDM yang belum terasah dengan baik karena minimnya sarana dan prasarana untuk penelitian dan pengembangan, khususnya di bidang TI. "Potensi kita besar karena penduduk kita banyak. Tapi sayangnya penetrasi TI kita masih kecil," ujar Djoko menambahkan. Sementara itu, Vice President Director PT Microsoft Indonesia Ari Kunwidodo mengatakan pekerja TI di Indonesai masih terhitung rendah dibandingkan India. "Berdasarkan hasil studi lembaga riset IDC tenaga kerja TI di Indonesia pada 2005 hanya 150 ribu pekerja. Sementara pekerja TI kita yang software related hanya 30 persen dari 150 ribu, sekitar 22 ribu saja. Bandingkan dengan India yang memiliki satu juta pekerja TI," paparnya. Ari pun memprediksikan sesuai ramalan IDC, mulai 2006 hingga 2009, akan ada angka pertumbuhan pekerja TI sebesar 66 ribu. Untuk ukuran pengembang software lokal, Indonesia juga terbilang kekurangan. Berdasarkan data dari Asosiasi Piranti Lunak Indonesia, perusahaan pengembang software yang resmi terdaftar menjadi anggota saja baru berkisar 400 ISV. Dengan adanya MIC, dia pun berharap dapat memberikan kontribusi dalam perkembangan industri software di Tanah Air. Menurutnya, untuk mengembangkan industri itu dan menciptakan berbagai peluang perlu kolaborasi antar akademisi, pengembang software lokal pemula, pengusaha, mitra industri, serta pemerintah. Ada Udang di balik Batu? Dalam kesempatan itu, Ari pun berjanji akan memfasilitasi perangkat riset MIC dan kebutuhan lainnya yang menunjang, secara cuma-cuma. Bahkan pihaknya akan mendatangkan pengajar ahli native langsung dari luar. "Kita akan banjiri lab ini dengan buku-buku teknologi serta software-software terbaru Microsoft. Kita juga yang akan bayarin pengajar native yang langsung kita datangkan dari luar. Untuk kelengkapan hardware akan di-provide oleh Acer. Presdir Acer (Jason Lim -red) sudah setuju untuk ikut mendukung program ini," klaimnya. Para wartawan yang hadir di acara peresmian itu pun mempertanyakan maksud dan tujuan Microsoft mendanai semua ini. "Untuk pendidikan kita nggak ada faktor komersial. Kita nggak expect something, nggak ada udang di balik batu. Lagipula, property rights dari hasil penelitian mereka tidak akan kami akui menjadi milik kami, namun tetap hak milik mereka," kata Ari menegaskan. Cangkok Konten Untuk mengembangkan para pengembang software lokal ke arah industri yang lebih inovatif, Ari mengatakan pihak Microsoft sudah melakukan kesepakatan dengan Magister Management ITB untuk menurunkan ilmunya pada para pengembang itu. "Kita sudah deal dengan MM ITB untuk mencangkokkan konten bisnis dari magister manajemen untuk mengajarkan ilmu bisnisnya pada ISV," tandasnya. Selain itu, Ari juga berjanji untuk mencarikan 'bapak asuh' untuk para ISV agar bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan iklim industri di lapangan. Dalam program bina ISV sebelumnya, adalah PT Astra Motor yang menjadi 'bapak asuh' bagi 60 ISV. Ari juga membatasi institusi pendidikan yang akan dijadikan pusat pengembangan inovasi MIC. Hingga akhir tahun ini, dia mengatakan hanya akan menambah dua MIC lagi di dua kampus di Indonesia. "Saya hanya akan membatasi empat kampus saja yang akan kita jadikan role model. Saya ingin program ini berhasil," tandasnya pada detikINET. (rou) Keterangan Foto: Kiri: Rektor ITB Prof. Dr.Ir. Djoko Santoso MSc. Kanan: Ari Kunwidodo, Wakil Presiden Direktur PT Microsoft Indonesia. (rou)
Created by alan ardiansyah @ 2006
- Home
- Profile
- Gallery
- Story
- Friend
- Teknologi
- Music
- Contact
- Guestbook
- Link
Banner COM